Sebagai seller TikTok Shop, Anda mungkin bertanya: apakah sebaiknya mengaktifkan COD (Cash on Delivery)? Di satu sisi, COD bisa menjangkau pembeli yang tidak punya kartu kredit atau e-wallet. Di sisi lain, risiko pembeli menolak paket sangat tinggi.
Artikel ini akan menganalisis secara mendalam tren pembayaran COD vs Non-COD di TikTok Shop 2025, termasuk biaya, risiko, dan rekomendasi berdasarkan jenis produk Anda.
Apa Perbedaan COD dan Non-COD?
COD (Cash on Delivery)
Pembeli bayar saat paket sampai ke tangan kurir. Seller mengirim barang terlebih dahulu tanpa menerima pembayaran di awal.
Non-COD (Prepaid)
Pembeli bayar di muka melalui transfer bank, e-wallet (OVO, GoPay, ShopeePay), atau kartu kredit sebelum barang dikirim.
Tren Pembayaran di TikTok Shop Indonesia 2025
Berdasarkan data industri e-commerce 2025, tren pembayaran menunjukkan beberapa pola menarik:
- COD masih populer di segmen pembeli yang unbanked atau tidak terbiasa dengan digital payment
- Digital wallet semakin dominan terutama di perkotaan (OVO, GoPay, Dana)
- TikTok Shop mendorong Non-COD dengan promo cashback untuk pembayaran digital
- Paylater/BNPL menjadi opsi populer untuk produk dengan harga tinggi
Data 2025: TikTok Shop melaporkan hingga 50% penonton live streaming melakukan pembelian, dibandingkan rata-rata 2-3% di e-commerce tradisional. Mayoritas pembelian impulsif ini menggunakan pembayaran digital.
Perbandingan Biaya: COD vs Non-COD
| Aspek | COD | Non-COD |
|---|---|---|
| Waktu Terima Uang | Setelah paket diterima | Langsung (after settlement) |
| Risiko Gagal Kirim | Tinggi (pembeli bisa tolak) | Rendah |
| Ongkir Jika Ditolak | Seller tanggung (2x: kirim + retur) | Tidak ada |
| Cash Flow | Tertahan | Lancar |
| Jangkauan Pembeli | Lebih luas (unbanked) | Terbatas digital-savvy |
Risiko Tersembunyi Transaksi COD
Banyak seller pemula tidak menyadari hidden cost dari COD yang bisa menggerus profit secara signifikan:
1. Risiko Paket Ditolak (Failed Delivery)
Pembeli COD tidak punya "skin in the game". Mereka bisa menolak paket karena:
- Berubah pikiran setelah order
- Tidak punya uang saat kurir datang
- Salah order atau tidak ingat pernah order
- Tidak puas dengan packaging/kondisi paket
Kerugian Paket Ditolak: Anda kehilangan ongkir 2 arah (kirim + retur), potensi kerusakan produk, dan waktu administrasi. Untuk produk Rp 50.000 dengan ongkir Rp 15.000, Anda bisa rugi Rp 30.000+ tiap paket ditolak!
2. Delayed Cash Flow
Uang dari COD baru masuk setelah pembeli terima dan bayar. Jika proses pengiriman 3-5 hari, settlement 2-3 hari, cash flow Anda bisa tertahan 1 minggu lebih.
3. Higher Return Rate
Social commerce seperti TikTok Shop punya karakteristik impulse buying. Pembeli order saat lihat video menarik, tapi menyesal kemudian. COD memudahkan mereka untuk "cancel" tanpa konsekuensi finansial.
Kapan Sebaiknya Aktifkan COD?
Aktifkan COD Jika:
- Target market di daerah dengan adopsi digital rendah
- Produk dengan harga tinggi (pembeli perlu "lihat dulu")
- Margin profit tinggi (>50%) untuk cover risiko
- Sudah punya sistem tracking return yang bagus
Hindari COD Jika:
- Margin tipis di bawah 30 persen
- Produk mudah rusak/perishable
- Target market anak muda urban
- Cash flow bisnis sedang ketat
Tips Mengurangi Risiko COD
Jika Anda memutuskan tetap mengaktifkan COD, berikut strategi untuk meminimalkan kerugian:
1. Verifikasi Order via WhatsApp/Telepon
Hubungi pembeli sebelum kirim untuk konfirmasi alamat dan keseriusan order. Ini mengurangi risiko "lupa order" atau salah alamat.
2. Batasi COD untuk Produk Tertentu
Aktifkan COD hanya untuk produk dengan margin tinggi atau yang sudah proven punya return rate rendah.
3. Set Minimum Order untuk COD
Terapkan minimum order lebih tinggi untuk COD (misal Rp 100.000) agar hanya pembeli serius yang menggunakan opsi ini.
4. Tracking & Analisis Return Rate
Monitor return rate COD vs Non-COD secara terpisah. Jika COD terlalu tinggi, pertimbangkan untuk disable.
Tips: Gunakan RekapCepat untuk memisahkan dan menganalisis transaksi yang berhasil vs refund/pembatalan. Anda bisa melihat pola mana yang lebih menguntungkan!
Studi Kasus: Perbandingan Profit
Mari simulasikan profit seller dengan 100 order per bulan:
| Skenario | Non-COD Only | COD + Non-COD |
|---|---|---|
| Total Order | 100 | 100 |
| Order Berhasil | 98 (2% cancel) | 85 (15% failed COD) |
| Harga Produk | Rp 100.000 | Rp 100.000 |
| Profit/unit | Rp 30.000 | Rp 30.000 |
| Kerugian Retur | Rp 60.000 (2 � Rp 30.000) | Rp 450.000 (15 � Rp 30.000) |
| Net Profit | Rp 2.880.000 | Rp 2.100.000 |
Dalam simulasi ini, seller yang hanya menggunakan Non-COD mendapat profit 37% lebih tinggi dibanding yang campuran!
Mau Tahu Profit COD vs Non-COD Anda?
RekapCepat breakdown semua transaksi, termasuk refund & pembatalan. Analisis pola mana yang lebih menguntungkan!
Kesimpulan
Berdasarkan analisis tren pembayaran di TikTok Shop 2025:
- Non-COD lebih menguntungkan untuk mayoritas seller karena risiko lebih rendah dan cash flow lebih lancar
- COD masih relevan untuk target market tertentu (daerah, demografi older), tapi harus dengan strategi mitigasi risiko
- Failed delivery rate COD bisa mencapai 15-20% di beberapa kategori, sangat menggerus profit
- TikTok Shop mendorong pembayaran digital dengan berbagai promo cashback
- Selalu analisis data transaksi Anda untuk menentukan strategi pembayaran optimal
Keputusan mengaktifkan COD harus berdasarkan data bisnis Anda, bukan asumsi. Track return rate, bandingkan profit per metode pembayaran, dan adjust strategi secara berkala.