Pernahkah Anda bingung mencari produk tertentu di gudang karena stok yang menumpuk? Atau pernah salah kirim produk ke pelanggan karena nama produk yang mirip-mirip? Masalah seperti ini sering dialami penjual online yang belum menggunakan Kode SKU atau Stock Keeping Unit.
Dalam bisnis online yang semakin kompetitif, kemampuan mengelola inventaris dengan rapi dan efisien menjadi kunci sukses. Di sinilah peran penting SKU—sistem identifikasi produk yang wajib dimiliki setiap pedagang online, mulai dari seller pemula hingga brand besar.
Pengertian Kode SKU Produk
SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode unik berupa kombinasi huruf dan/atau angka yang dibuat oleh penjual untuk mengidentifikasi setiap produk atau varian produk dalam inventaris mereka. Kode ini bersifat internal—artinya Anda bebas menentukan format SKU sesuai kebutuhan bisnis Anda sendiri.
Contoh SKU: KMJ-BATIK-PRIA-L-BIRU untuk Kemeja Batik Pria ukuran
L warna Biru, atau SND-NK-AM42-BLK untuk Sandal Nike Air Max ukuran 42 warna Black.
Setiap varian produk—seperti perbedaan warna, ukuran, bahan, atau model—akan memiliki SKU yang berbeda. Ini memungkinkan Anda melacak stok masing-masing varian secara akurat tanpa kebingungan.
Perbedaan SKU dengan Barcode (UPC)
Banyak orang bingung membedakan SKU dengan barcode. Berikut perbedaannya:
| Aspek | SKU | Barcode (UPC) |
|---|---|---|
| Pembuat | Dibuat internal oleh penjual | Standardized universal (GS1) |
| Format | Alfanumerik bebas | Angka 12-13 digit |
| Keunikan | Unik per bisnis | Unik secara global |
| Fungsi | Manajemen inventaris internal | Identifikasi produk universal |
Mengapa Penjual Online Wajib Punya SKU?
Bagi Anda yang berjualan di marketplace seperti Tokopedia, TikTok Shop, atau Shopee, SKU bukan sekadar optional—melainkan kebutuhan penting untuk scale up bisnis. Berikut alasannya:
1. Identifikasi Produk yang Mudah dan Akurat
Dengan ribuan produk dan ratusan varian, SKU memungkinkan Anda mengidentifikasi produk spesifik dalam hitungan detik. Tidak perlu lagi mengandalkan nama produk yang panjang atau foto yang mirip-mirip.
2. Manajemen Stok yang Efisien
SKU adalah fondasi dari sistem manajemen inventaris modern. Dengan SKU, Anda dapat:
- Melacak jumlah stok real-time per varian
- Mengetahui kapan harus restock sebelum kehabisan
- Mencegah overselling (menjual lebih dari stok yang ada)
- Menerapkan strategi Just-in-Time inventory
3. Mempercepat Proses Picking & Packing
Saat ada pesanan masuk, tim gudang tinggal mencari berdasarkan SKU—langsung tahu produk mana yang harus diambil dan dari lokasi penyimpanan mana. Ini bisa menghemat waktu processing order hingga 50-70%.
4. Analisis Penjualan yang Akurat
Dengan data SKU, Anda bisa menganalisis:
- Produk atau varian mana yang paling laris
- Produk mana yang slow-moving dan perlu didiskon
- Tren penjualan berdasarkan kategori, warna, atau ukuran
- Produk mana yang menghasilkan profit margin tertinggi
5. Sinkronisasi Multi-Channel
Jika Anda berjualan di beberapa marketplace sekaligus (Tokopedia, Shopee, TikTok Shop), SKU menjadi "penghubung" yang memastikan stok tersinkronisasi di semua platform. Saat ada penjualan di satu platform, stok di platform lain otomatis berkurang.
6. Mengurangi Human Error
Kesalahan pencatatan stok, salah kirim produk, atau produk hilang—semua ini bisa diminimalkan dengan sistem SKU yang rapi. Riset menunjukkan implementasi SKU yang baik dapat mengurangi kesalahan inventaris hingga 65%.
Cara Membuat Kode SKU yang Efektif
Tidak ada format baku untuk SKU—Anda bebas membuatnya sendiri. Namun, ada beberapa praktik terbaik yang sebaiknya diikuti:
1. Gunakan Format yang Konsisten
Tentukan struktur SKU dan terapkan ke semua produk. Contoh format:
[Kategori]-[Merek]-[Model]-[Ukuran]-[Warna][Inisial Supplier]-[Kode Produk]-[Varian]
2. Buat Kode yang Bermakna
SKU sebaiknya bisa "dibaca" oleh manusia, bukan hanya sistem. Contoh:
-
TSH-NIKE-AIRMX-42-BLK(T-shirt Nike Air Max 42 Black) -
78234092834(tidak bermakna)
3. Hindari Karakter yang Membingungkan
Jangan gunakan huruf O dan angka 0, atau huruf I dan angka 1 dalam satu SKU karena mudah tertukar. Gunakan huruf kapital untuk konsistensi.
4. Jangan Terlalu Panjang
Idealnya, SKU terdiri dari 8-12 karakter. Terlalu panjang justru menyulitkan input manual dan rentan typo.
5. Sisipkan Informasi Penting
Masukkan atribut yang sering dibutuhkan:
- Kategori/jenis produk
- Brand atau supplier
- Varian (ukuran, warna, bahan)
- Tahun produksi (opsional)
Contoh Format SKU Bagus:
DRS-ZRA-FLRL-M-RED = Dress Zara Floral ukuran M warna Red
BAG-LV-NEVF-BRN-23 = Bag Louis Vuitton Neverfull Brown tahun 2023
Contoh Implementasi SKU di Marketplace
SKU di Tokopedia
Tokopedia menyediakan field "Kode SKU" saat menambah produk baru. Anda bisa memasukkan SKU internal Anda di sini untuk memudahkan pencarian dan sinkronisasi dengan sistem inventaris Anda.
SKU di TikTok Shop
TikTok Shop (melalui Seller Center Tokopedia) juga mendukung input SKU untuk setiap varian produk. Ini sangat membantu saat Anda live selling dengan banyak produk.
SKU di Shopee
Di Shopee Seller Center, field "Kode Produk" berfungsi sebagai SKU. Pastikan SKU Anda konsisten di semua platform untuk kemudahan sinkronisasi.
Punya SKU? Saatnya Analisis Profit!
Setelah mengatur SKU, langkah selanjutnya adalah menganalisis profit per produk. RekapCepat.id membantu Anda melihat laba bersih dari setiap transaksi!
Kesimpulan
Kode SKU (Stock Keeping Unit) adalah sistem identifikasi produk internal yang wajib dimiliki setiap penjual online yang serius mengembangkan bisnisnya. Dengan SKU yang terstruktur, Anda dapat:
- Mengidentifikasi produk dengan cepat dan akurat
- Mengelola stok secara efisien di seluruh channel penjualan
- Mempercepat proses fulfillment pesanan
- Menganalisis penjualan untuk pengambilan keputusan yang lebih baik
- Mengurangi kesalahan operasional dan potensi kerugian
Mulailah membuat sistem SKU Anda hari ini! Tidak perlu langsung sempurna—yang penting konsisten dan sesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda yang berkembang.